Bagi sebagian orang, hampir semua makanan terasa lebih enak setelah ditambahkan keju. Tak sedikit pula menu yang sengaja menawarkan ekstra keju, mulai dari mi instan, burger, hingga kentang goreng.
Namun, di balik rasanya yang gurih dan creamy, keju tetap menyumbang kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diperhatikan. Karena itu, menambahkan keju ke berbagai makanan sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama jika porsinya berlebihan atau dikombinasikan dengan makanan yang sudah tinggi kalori dan garam.
Lalu, bagaimana cara menikmati keju dengan lebih bijak agar tetap bisa memperoleh manfaat gizinya?
Keju memang dapat menjadi sumber protein dan kalsium. Namun, penggunaannya sering kali menjadi kurang ideal ketika ditambahkan ke makanan yang sebenarnya sudah tinggi kalori, lemak, dan garam, seperti kentang goreng, burger, pizza, atau mi instan. Beberapa alasan mengapa kebiasaan ini perlu diperhatikan antara lain:
Menambahkan keju berarti menambah kalori pada makanan. Menurut publikasi oleh Barbara J. Rolls dalam jurnal Nutrition Reviews, makanan dengan kepadatan energi (energy density) yang tinggi cenderung membuat seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum merasa kenyang. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi ini dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas.
Banyak jenis keju mengandung lemak jenuh dan natrium. Ketika ditambahkan ke makanan cepat saji atau makanan ultra-proses yang kandungannya sudah tinggi, jumlah lemak jenuh dan natrium yang dikonsumsi pun ikut bertambah.
WHO merekomendasikan agar asupan lemak jenuh dibatasi hingga kurang dari 10 persen total energi harian. WHO juga menganjurkan pembatasan konsumsi natrium untuk membantu menurunkan risiko penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung dan stroke.
Selain itu, pola makan yang tinggi lemak jenuh dan natrium juga telah lama dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau “kolesterol jahat” serta tekanan darah pada sebagian orang. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah keju yang dikonsumsi, tetapi juga makanan yang menjadi pasangannya.
Dengan kata lain, menambahkan keju ke burger, kentang goreng, atau mi instan sesekali tentu tidak akan langsung menimbulkan masalah kesehatan. Namun jika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus dan menjadi bagian dari pola makan sehari-hari, total asupan energi, lemak jenuh, dan natrium dapat meningkat melebihi kebutuhan tubuh.
Keju dapat menjadi bagian dari pola makan yang seimbang ketika dikonsumsi bersama makanan kaya serat, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, maupun biji-bijian utuh.
Beberapa contoh kombinasi yang bisa dicoba antara lain salad sayur dengan taburan keju, roti gandum isi sayuran dan keju, omelet sayur dengan sedikit keju, atau keju yang dipadukan dengan buah segar seperti apel dan pir. Di Indonesia, keju juga bisa dipadukan dengan jagung rebus, kentang kukus, sandwich sayuran, atau tumisan sayur sebagai penambah rasa, tanpa harus selalu menjadi pelengkap makanan cepat saji.
Dalam publikasi The Lancet pada 2019 dijelaskan, asupan serat yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah terhadap penyakit jantung koroner, stroke, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal. Salah satu alasannya, serat membantu memperlambat proses pencernaan sehingga rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Kondisi ini dapat membantu mengontrol asupan makanan secara keseluruhan.
Keju dan sayur atau buah juga memiliki kandungan gizi yang saling melengkapi. Keju merupakan sumber protein, kalsium, fosfor, dan vitamin B12, sementara sayur dan buah menyediakan serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa fitokimia yang berperan dalam menjaga kesehatan.
Karena itu, mengombinasikan keju dengan sayur atau buah dapat membantu menciptakan hidangan dengan profil gizi yang lebih beragam. Seseorang tidak hanya memperoleh protein dan kalsium dari keju, tetapi juga mendapatkan serat dan berbagai mikronutrien yang tidak banyak ditemukan dalam keju.
Meski demikian, keju tetap sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar. Sebagai gambaran, satu porsi keju umumnya sekitar 30 gram atau setara dengan satu potong kecil keju keras seperti cheddar.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan gizi modern yang menekankan pentingnya pola makan secara keseluruhan dibandingkan berfokus pada satu jenis makanan. Artinya, manfaat kesehatan tidak ditentukan oleh keju saja, melainkan oleh kombinasi makanan yang dikonsumsi bersama serta pola makan sehari-hari secara keseluruhan.
Untuk lebih lengkapnya Klik Disini!!
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.