Perselisihan pandangan hukum mewarnai upaya pembelaan Ammar Zoni, setelah kasus narkoba keempatnya dinyatakan berkekuatan hukum tetap atau inkracht.
Jon Mathias, kuasa hukum yang telah mendampingi Ammar Zoni sejak awal, menyatakan keberatan terhadap strategi pengacara baru, Krisna Murti, yang ingin mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Ia menilai langkah tersebut terlalu terburu-buru dan berisiko tinggi bagi masa depan hukum kliennya.
Menurut penilaiannya, pengajuan PK tanpa persiapan matang dan bukti baru yang kuat hanya akan membuang kesempatan emas kliennya. Ia melihat potensi keberhasilan langkah hukum tersebut sangatlah tipis jika dipaksakan dalam waktu dekat.
“Kemungkinan berhasilnya dari pengalaman kami 10 persen,” kata Jon Mathias, Rabu (13/5/2026).
Jon Mathias menekankan syarat utama diterimanya PK adalah, adanya Novum atau bukti baru yang belum pernah muncul dalam persidangan sebelumnya.
“Belum ada yang saya tengok begitu orang putus ya, ibaratnya orang meninggal tuh kuburannya masih merah tiba-tiba sudah ya ibaratnya istri kawin lagi gitu kan. Jadi ya, itulah saya memutuskan tidak mau ikut bergabung kalau secepatnya PK itu diajukan,” ujar Jon Mathias.
Selain masalah bukti baru, Jon Mathias juga meragukan poin kekhilafan hakim yang biasanya menjadi celah dalam PK. Ia mengingatkan, hakim jarang sekali mengabulkan permohonan PK hanya berdasarkan argumen kekhilafan tanpa didukung bukti yang kuat.
“Persyaratan utama dari PK itu adalah Novum. Ya kekhilafan hakim itu kan jarang yang dikabulkan,” tegas Jon Mathias.
Perbedaan pandangan ini, akhirnya membuat Jon Mathias memilih untuk menarik diri dari tim yang mengurus PK Ammar Zoni.
“Saya berbeda pandangan. Saya tidak mau juga ikut dalam gerbong itu gitu loh. Karena Novum-nya saya tengok ya ini pribadi saya, pandangan saya kan belum ada,” pungkasnya.
Kini, Jon Mathias lebih memilih fokus pada upaya hukum lain yang diminta oleh pihak keluarga, yakni mendesak kepolisian untuk mengejar bandar utama dalam kasus Ammar Zoni.
Sementara itu, rencana pengajuan PK tetap berjalan di bawah kendali pengacara baru, meskipun Jon Mathias secara terang-terangan meragukan efektivitas langkah tersebut bagi Ammar Zoni.
Untuk lebih lengkapnya Klik Disini!!
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.