FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, menyentil sikap pemerintah dalam merespons kritik publik terkait penanganan bencana banjir yang dianggap lamban.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikan masyarakat justru dianggap tidak etis dan disebut sebagai upaya memperkeruh suasana.
Dikatakan Gus Hilmi, kritik tersebut lahir dari keprihatinan rakyat atas situasi di lapangan, bukan untuk memperburuk keadaan.
Baginya, wajar jika masyarakat mendesak pemerintah agar lebih serius dan meningkatkan status bencana demi mempercepat penanganan.
“Rakyat mengkritisi lambannya kerja pemerintah dalam menangani bencana dan minta status bencana ditingkatkan malah dibilang memperkeruh suasana,” ujar Gus Hilmi di X @hilmi28 (21/12/2025).
Gus Hilmi bilang, ketika ruang kritik dibatasi atau disalahartikan, masyarakat pada akhirnya hanya bisa bersandar pada kekuatan spiritual.
“Ya sudah, kami mengadu saja kepada sang Maha Pencipta, sang penggenggam segalanya,” tandasnya.
Lebih jauh, Gus Hilmi mengingatkan agar pemerintah tidak meremehkan suara dan doa masyarakat, terutama mereka yang terdampak langsung oleh bencana.
Ia menekankan bahwa doa orang-orang yang berada dalam kondisi terzalimi memiliki kekuatan moral dan spiritual yang besar.
“Jangan remehkan doa saudaraku, terutama doa orang-orang yang terdzhalimi,” kuncinya.
Sebelumnya, Founder Awak Media Indonesia (AMI) Group, Azzam Mujahid Izzulhaq, menguliti pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya terkait penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, meliputi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film